Rabu, 11 Oktober 2017

SOFTKILL BAB 1 ETIKA PROFESI AKUNTANSI



BAB I ETIKA PROFESI AKUNTANSI

I. Pendahuluan Etika Sebagai Tinjauan

1.      Pengertian Etika
Menurut Brooks (2012), dari segi etimologi (ilmu asal usul kata), etika berasal dari bahasa Yunani, ethos yang berarti watak kesusilaan atau adat. Namun secara umum, Etika adalah cabang dari filsafat yang menyelidiki penilaian normatif tentang apakah perilaku ini benar atau apa yang seharusnya dilakukan. Kebutuhan akan etika muncul dari keinginan untuk menghindari permasalahan di dunia nyata.
2.      Prinsip-Prinsip Etika
Prinsip etika menurut IAI dalam kongres VIII tahun 1998 yang telah ditentukan ketetapannya :
1.      Tanggung Jawab Profesi
Dalam prinsip tanggung jawabnya sebagai profesional, setiap anggota berkewajiban menggunakan pertimbangan moral dan profesional setiap melakukan kegiatannya.
2. Kepentingan Publik
Setiap anggota berkewajiban untuk senantiasa bertindak dalam kerangka pelayanan kepada publik, mengormati kepercayaan publik, dan menunjukkan komitmen atas profesionalisme.
3. Integritas
Integritas adalah suatu satu kesatuan yang mendasari munculnya pengakuan profesional. Integritas merupakan kualitas yang mendasari kepercayaan publik dan merupakan standar bagi anggota dalam menguji semua keputusan yang diambilnya.
4. Objektivitas
Prinsip objektivitas mengharuskan anggota bersikap adil, tidak memihak, jujur, secara intelektual, tidak berprasangka atau bias, serta bebas dari benturan kepentingan atau berada di bawah pengaruh pihak lain.
5. Kompetensi dan Kehati-hatian Profesional
Setiap anggota harus melaksanakan jasa profesionalnya dengan berhati-hati, kompetensi dan ketekunan, serta mempunyai kewajiban untuk mempertahankan pengetahuan dan ketrampilan profesional pada tingkat yang diperlukan untuk memastikan bahwa klien atau pemberi kerja memperoleh manfaat dari jasa profesional dan teknik yang paling mutakhir. Hal ini mengandung arti bahwa anggota mempunyai kewajiban untuk melaksanakan jasa profesional dengan sebaik-baiknya sesuai dengan kemampuannya, demi kepentingan pengguna jasa dan konsisten dengan tanggung jawab profesi kepada publik.
6. Kerahasiaan
Setiap anggota harus menghormati kerahasiaan informasi yang diperoleh selam melakukan jasa profesional dan tidak boleh memakai atau mengungkapkan informasi tersebut tanpa persetujuan.
7. Perilaku Profesional
Kewajiban untuk menghindari perbuatan atau tingkah laku yang dapat mengurangi tingkat profesi harus dipenuhi oleh anggota sebagai perwujudan tanggung jawabnya kepada penerima jasa, pihak ketiga, anggota yang lain, staff, pemberi kerja dan masyarakat umum.
8. Standar Teknis
Standar teknis dan standar professional yang harus ditaati anggota adalah standar yang dikeluarkan oleh IAI, International Federation of Accountants, badan pengatur, dan peraturan perundang- undangan yang relevan.
Menurut (Sonny Keraf, 1998, dikutip oleh Arijanto, 2011), prinsip-prinsip etika bisnis meliputi :
1.      Prinsip otonomi
Sikap dan kemampuan manusia untuk mengambil keputusan dan bertindak berdasarkan kesadarannya tentang apa yang dianggapnya baik untuk dilakukan.
2. Prinsip kejujuran
Kegiatan bisnis tidak akan bisa bertahan lama dan berhasil jika tidak didasarkan atas kejujuran.
1.      Jujur dalam pemenuhan syarat-syarat perjanjian dan kontrak.
2.      Kejujuran dalam penawaran barang atau jasa dengan mutu dan harga yang sebanding.
3.      Jujur dalam hubungan kerja intern dalam suatu perusahaan.
3. Prinsip keadilan
Menuntut agar setiap orang diperlakukan secara sama sesuai dengan aturan yang adil sesuai kriteria yang rasional obyektif, serta dapat dipertanggung jawabkan.
4. Prinsip saling menguntungkan (mutual benefit principle)
Menuntut agar binis dijalankan sedemikian rupa sehingga menguntungkan semua pihak.
5. Prinsip integritas
Dihayati sebagai tuntutan internal dalam diri perilaku bisnis atau perusahaan, agar perlu menjalankan bisnis atau perusahaan, agar perlu menjalankan bisnis dengan tetap menjaga nama baik pimpinan, karyawan, maupun perusahaannya.
3.      Basis Teori Etika
a. Etika Teleologi
dari kata Yunani, telos = tujuan, Mengukur baik buruknya suatu tindakan berdasarkan tujuan yang mau dicapai dengan tindakan itu, atau berdasarkan akibat yang ditimbulkan oleh tindakan itu.
Dua aliran etika teleologi :
1.      Egoisme Etis
Inti pandangan egoisme adalah bahwa tindakan dari setiap orang pada dasarnya bertujuan untuk mengejar pribadi dan memajukan dirinya sendiri.Satu-satunya tujuan tindakan moral setiap orang adalah mengejar kepentingan pribadi dan memajukan dirinya. Egoisme ini baru menjadi persoalan serius ketika ia cenderung menjadihedonistis, yaitu ketika kebahagiaan dan kepentingan pribadi diterjemahkan semata-mata sebagai kenikmatan fisik yg bersifat vulgar.
Contoh : seorang manager perusahaan ingin melakukan pengembangan system terhadap perusahaannya namun sang manager tidak mau mendengarkan pendapat karyawan-karyawan yang memberikan informasi penting untuk mengembangkan system perusahaan tersebut, manager tersebut hanya ingin melakukan sesuatu tanpa memikirkan pendapat bawahannya sehingga system yang dikembangkan oleh sang manajer menjadi kurang maksimal atau mungkin bahkan berdampak buruk terhadap perusahaan.
2. Utilitarianisme
berasal dari bahasa latin utilis yang berarti “bermanfaat”. Menurut teori ini suatu perbuatan adalah baik jika membawa manfaat, tapi manfaat itu harus menyangkut bukan saja satu dua orang melainkan masyarakat sebagai keseluruhan. Dalam rangka pemikiran utilitarianisme, kriteria untuk menentukan baik buruknya suatu perbuatan adalah “the greatest happiness of the greatest number”, kebahagiaan terbesar dari jumlah orang yang terbesar.
Contoh : seorang pemimpin daerah yang ingin memajukan daerahnya menjadi daerah wisata. Pemimpin daaerah tersebut meminta pendapat kepada masyarakatnya dan mengajak masyarakat untuk bekerja sama dalam memajukan daerahnya. Keputusan atau perbuatan tersebut dapat membawa manfaat bagi masyarakat ataupun daerah itu sendiri yaitu menjadikan daerah itu banyak dikunjungi oleh wisatawan dan dapat juga menaikan pendapatan perdaerahnya.
B. Deontologi
Istilah deontologi berasal dari kata Yunani ‘deon’ yang berarti kewajiban.‘Mengapa perbuatan ini baik dan perbuatan itu harus ditolak sebagai buruk’, deontologi menjawab:‘karena perbuatan pertama menjadi kewajiban kita dan karena perbuatan kedua dilarang’. Yang menjadi dasar baik buruknya perbuatan adalah kewajiban. Pendekatan deontologi sudah diterima dalam konteks agama, sekarang merupakan juga salah satu teori etika yang terpenting.
3. Teori Hak
Dalam pemikiran moral dewasa ini barangkali teori hak ini adalah pendekatan yang paling banyak dipakai untuk mengevaluasi baik buruknya suatu perbuatan atau perilaku. Teori Hak merupakan suatu aspek dari teori deontologi, karena berkaitan dengan kewajiban. Hak dan kewajiban bagaikan dua sisi uang logam yang sama. Hak didasarkan atas martabat manusia dan martabat semua manusia itu sama. Karena itu hak sangat cocok dengan suasana pemikiran demokratis.
4.      Teori Keutamaan (Virtue)
memandang sikap atau akhlak seseorang. Tidak ditanyakan apakah suatu perbuatan tertentu adil, atau jujur, atau murah hati dan sebagainya. Keutamaan bisa didefinisikan sebagai berikut : disposisi watak yang telah diperoleh seseorang dan memungkinkan dia untuk bertingkah laku baik secara moral.
Contoh keutamaan :
1.      Kebijaksanaan
2.      Keadilan
3.      Suka bekerja keras
4.      Hidup yang baik
4. Egoism
Egoisme merupakan motivasi untuk mempertahankan dan meningkatkan pandangan yang hanya menguntungkan diri sendiri. Egoisme berarti menempatkan diri di tengah satu tujuan serta tidak peduli dengan penderitaan orang lain, termasuk yang dicintainya atau yang dianggap sebagai teman dekat. Istilah lainnya adalah “egois”. Lawan dari egoisme adalah
Egoisme adalah cara untuk mempertahankan dan meningkatkan pandangan yang menguntungkan bagi dirinya sendiri, dan umumnya memiliki pendapat untuk meningkatkan citra pribadi seseorang dan pentingnya – intelektual, fisik, sosial dan lainnya. Egoisme ini tidak memandang kepedulian terhadap orang lain maupun orang banyak pada umunya dan hanya memikirkan diri sendiri. Egois ini memiliki rasa yang luar biasa dari sentralitas dari ‘Aku adalah’:. Kualitas pribadi mereka Egotisme berarti menempatkan diri pada inti dunia seseorang tanpa kepedulian terhadap orang lain, termasuk yang dicintai atau dianggap sebagai “dekat,” dalam lain hal kecuali yang ditetapkan oleh egois itu.
Teori eogisme atau egotisme diungkapkan oleh Friedrich Wilhelm Nietche yang merupakan pengkritik keras utilitarianisme dan juga kuat menentang teori Kemoralan Sosial. Teori egoisme berprinsip bahwa setiap orang harus bersifat keakuan, yaitu melakukan sesuatu yang bertujuan memberikan manfaat kepada diri sendiri. Selain itu, setiap perbuatan yang memberikan keuntungan merupakan perbuatan yang baik dan satu perbuatan yang buruk jika merugikan diri sendiri. Kata “egoisme” merupakan istilah yang berasal dari bahasa latin yakni ego, yang berasal dari kata Yunani kuno – yang masih digunakan dalam bahasa Yunani modern – ego (εγώ) yang berarti “diri” atau “Saya”, dan-isme, digunakan untuk menunjukkan sistem kepercayaannya. Dengan demikian, istilah ini secara etimologis berhubungan sangat erat dengan egoisme filosofis.
Referensi:
AICPI, Code of Professional Conduct
Aturan Etika IAI Kompartemen-Kompartemen diluar IAI KA
Brooks, Leonard J., “Business & Professional Ethics for Accountants”, South Western College Publishing, 2012 Edisi Terbaru
Duska, Ronald F. and Brenda Shay Duska, “Accounting Ethics”, Blackwell Publishing, 2003
Francis, Ronald D., “Ethics & Corporate Governance”, an Australian Handbook, UNSW Press, 2000
IAI Kode Etik Akuntan Indonesia Prosiding Kongres VIII IAI, 1998
IAI KAP Aturan Etika Profesi Akuntan Publik
IFAC Ethics Committee, IFAC Coe of Ethics for Professional Accountants, International Federation of Accountants
Ketut Rinjin, “Etika Bisnis dan Implementasinya”, Gramedia Pustaka Utama Jakarta 2004
Northcott, Paul H, “Ethics and the Accountant”: Case Studies, Prentice Hall of Astralia, 1994 atau Edisi Revisi
Sony Keraf. Etika Bisnis: “Tuntutan dan Relevansinya”, Kanisius, 1998 atau terbaru

Rabu, 07 Juni 2017

SOFTSKILL KETIGA

Nama                   : Indah Febrina Mora
Kelas                    : 3 EB 29
NPM                    : 25214262

Exercise 49: Redundancy
1.      After Jil had shown Tim how to insert the paper once, she repeated the operation again.
Analysis : Again is the redundant word
2.      The twins have the same identical birthmarks on their backs.
Analysis : Same is the redundant word
3.      I think we have sufficient enough information to write the report.
Analysis : Enough is the redundant word
4.      When the roads became too slippery, we decided to return back to the cabin and wait for the strom to subside.
Analysis : Back is the redundant word
5.      Nobody could get out of work early enough to attend the matinee performance.
Analysis : Enough is the redundant word
6.      The mountain climbers proceeded forward on their long trek up the side of the mountain.
Analysis : Forward  is the redundant word
7.      Rita and her sister competed together in the musical talent show.
Analysis : Together is the redundant word
8.      I think that we should come up with a new innovation for doing this job.
Analysis : Doing  is the redundant word
9.      The minister joined the bride and groom together in holy wedlock.
Analysis : Together is the redundant word
10.  My cousin love to play with the two twins from across the street.
Analysis : Two  is the redundant word
  
Exericise 50: Parallel Structure
1.      The puppy stood up slowly, wagged its tail, blinking its eyes, and barked.
Parallel : The puppy stood up slowly, wagged its tail, blinked its eyes, and barked
                                   Past                        Past                     Past                                Past
2.      Ecologists are trying to preserve our environment for future generations by protecting the ozone layer, purifying the air, and have replanted the trees that have been cut down.
Parallel : Ecologists are trying to preserve our environment for future generations by protecting the ozone layer, purifying the air, and replenting the trees that have been cut
 Verb + ing                                         Verb + ing                              Verb + ing
down.
3.      The chief of police demanded from his assistants an orderly investigation, a well-written report, and that they work hard.
Parallel : The chief of police demanded from his assistants an orderly investigation, a well written report, and working hard.
4.      Marcia is a scholar, an athlete, and artistic.
Parallel : Marcia is a scholar, an athlete, and artist.
                                     Noun             Noun               Noun
5.      Slowly and with car, the museum director removed the Ming vase from the shelf and placed it on the display pedestal.
Parallel : Slowly and carefully, the museum director removed the Ming vase from the
                 Adverb                 Adverb
shelf and placed it on the display pedestal.
6.      The farmer plows the fields, plants the seeds, and will harvest the crop.
Parallel : The farmer plows the fields, plants the seeds, and harvests the crop
                                   Present                        Present                                    Present
7.      Abraham Lincoln was a good president and was self-educated, hard-working, and always told the truth.
Parallel : Abraham Lincoln was a good president and was self-educated, hard-worked,
                                                                                                      Past                         Past
and always told the truth
        Past
8.      Children love playing in the mud, running through puddles, and they get very dirty.
Parallel : Children love playing in the mund, running through puddles, and getting dirty
9.      Collecting stamps playing chess, and to mount beautiful butterflies are Derrick’s hobbies.
Parallel : Collecting stamps, playing chess, and mounting beautiful butterflies are Derrick’s hobbies.
10.  Despite America’s affluence, many people are without jobs, on welfare, and have a lot of debts.
Parallel : Despite America’s affluence, many people are jobless, on welfare, and have a lot of debts.


Rabu, 26 April 2017

SOFTKILL PERTEMUAN KE 2



Exercise 48 : Participles as Adjectives
Choose the correct from of the participles used as adjective in
the following sentences.


1.     The (breaking/broken) dishes lay on the floor.
          Analysis : because, the noun receives the action

2.     The (trembling/trembled) children were given a blanker for warmth.
          Analysis : because, the noun causes the action

3.     Compassionate friends tried to console the (crying/cried) children.
          Analysis : because, the noun causes the action

4.     The (interesting/interested) tennis match caused a great ideal of excitement.
          Analysis : because, the noun causes the action

5.     When james noticed the (burning/burnt) building, he notified the fire
    department immediately.
          Analysis : because, the noun causes the action

6.     The (exciting/excited) passengers jumped into the lifeboats when notified
    that the ship was sinking.
           Analysis : because, the noun receives the action

7.     The (smiling/smiled) Mona Lisa is on display in the louvre in paris.
          Analysis : because, the noun causes the action

8.     The wind made such (frightening/frightened) noises that the children
     ran to their parent’s from.
          Analysis : because, the noun causes the action

9.      The (frightening/frightened) hostages only wanted to be left alone.
          Analysis : because, the noun receives the action

10.                         We saw the (advancing/advanced) army from across town.
            Analysis : because, the noun causes the action



11.                         Mrs. Harris’s (approving/approved) smile let us know that
      our speeches were well done.
           Analysis : because, the noun causes the action

12.                         Our representative presented the (approving/approved) plain
      to the public.
            Analysis : because, the noun receives the action

13.                         The (blowing/blown) wind of the hurricane damaged the
      waterfront property.
            Analysis : because, the noun causes the action

14.                         We were going to see the movie at the center theater, but our
      friends told us it was a (boring/bored) movie.
            Analysis : because, the noun causes the action

15.                         Mary’s (cleaning/cleaned) service comes every Wednesday .
            Analysis : because, the noun causes the action

16.                         The (cleaning/cleaned) shoes were placed in the sun to dry.
            Analysis : because, the noun receives the action

17.                         We could not open the (locking/locked) door without a key.
             Analysis : because, the noun receives the action

18.                         As we entered the (crowding/crowded) room, I noticed my cousins.
            Analysis : because, the noun receives the action

19.                         Dr. Jameson told my brother to elevate this (aching/ached) foot.
            Analysis: because, the noun receives the action

20.                         The police towed away the (parking/parked) cars because
      they were blocking the entrance.
            Analysis : because, the noun causes the action